Tampilkan postingan dengan label Tausyiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausyiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2010

Termometer Atau Termostat

Mas Gun Online: Dalam kehidupan di jagat Allah ini, manusia terbagi menjadi 2 (dua) golongan besar, yaitu:

1. Manusia Termometer
Manusia termometer yaitu manusia pengukur suhu. Manusia model ini hidup tanpa wawasan, mereka hanya mengikuti suhu yang ada, mereka tidak mau merenovasi apapun dalam hidup mereka, sebagai mana layaknya termometer, lebih cenderung mengikuti apa adanya, pasrah dengan apapun yang terjadi, tawakkal dengan taqdir yang telah Allah tentukan dan manusia model ini lebih cenderung mati akal. Kalimat yang sering kita dengar dari mereka ini diantaranya adalah: begitu, ya begitulah. Mereka tidak mau ambil pusing dengan apapun yang terjadi, segalanya disandarkan pada keadaan yang ada dan kepada Allah Yang Maha Sagala dalam sagala.

2. Manusia Termostat
Manusia termostat yaitu manusia pengatur suhu. Manusia model termostat lebih cenderung menganalisa suasana dan suasini, bila perlu mengubah suhu. Mereka ini idealis, merencanakan, memprogram sesuatu untuk mencapai menjadi yang terbaik. Mereka rela membuat perubahan-perubahan dalam hidupnya dan mengatur hidupnya untuk selalu berubah kearah yang lebih baik, tak ubahnya bagaikan termostat, mengatur suhu, mengatur arus dan bukan diatur suhu atau diatur arus. Manusia model ini bagaikan pawang, menepis ombak kehidupan, menerjang badai dan menghalau awan, demi agar terjadi penerangan terang benderang dalam kehidupan.

Kalau ingin maju, jangan jadi termometer, tetapi jadilah termostat dalam kehidupan di jagat Allah ini. www.masgunonline.blogspot.com

Senin, 13 April 2009

Efek Samping Pemilu 2009

EFEK SAMPING PEMILU 2009
Oleh: Mas Gun

www.masgunonline.blogspot.com : Realita menunjukkan bahwa Pemilu 2009 memiliki kandungan efek samping bagi mereka yang ikut bertarusng dalam kancah dunia perpolitikan praktis. Di satu sisi ada yang menang dan di sisi lain ada yang kalah. Bagi mereka yang menang amatlah gembiranya dan bagi mereka yang kalah sungguh amat sedihnya. Namun kebanggaan dan kesedihan yang terlalu bisa mengakibatkan penyakit dalam diri jika yang bersangkutan tidak mampu kontrol diri dan mawas diri.

Untuk itu kami sarankan bagi mereka yang menang agar berkenan bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kemenangan dan tetap dalam koridor mengemban serta melaksanakan amanat rakyat yang telah berkenan pula mendukung anda. Tetapi bagi mereka yang dilanda badai kekalahan kiranya berkenan bersabar dan tawakkal kepada Allah disamping instrokpeksi diri sembari mawas diri agar kekalahan tidak membuat diri anda jadi stress wal stroke. www.masgunonline.blogspot.com

Jumat, 10 April 2009

Kembalilah Kepada Islam

KEMBALILAH KEPADA ISLAM

www.masgunonline.blogspot.com dari www.ummah.net, diringkas dan diedit ulang dari www.hidayatullah.com: Sejak akhir 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi dan politik yang parah. Hanya dalam tempo kurang dari satu tahun nilai rupiah terhadap dollar jatuh hingga 5 sampai 6 kali lipat. Jika kemarin Indonesia sanggup membayar utang luar negeri dalam waktu 20 tahun, berarti sekarang utang itu baru bisa dilunasi seratus tahun lagi! Dua atau tiga generasi mendatang utang itu belum akan terlunasi. Betapa sengsaranya nasib bangsa Indonesia. Dalam kondisi tertekan seperti ini, kebijakan para pemimpin negara berkembang seringkali bersifat pragmatis, yaitu memilih yang paling menguntungkan dirinya sendiri. Akhirnya mereka membebek saja terhadap semua kehendak dan kemauan barat. Hanya sedikit pemimpin yang memiliki karakter, jiwa besar, dan semangat tinggi untuk membawa bangsanya ke arah kemajuan yang tidak berorientasi ke Timur maupun ke Barat. Ia mampu menggelorakan semangat kembali kepada nilai-nilai dasar yang paling asasi, yaitu agama yang dianut dan dipeluknya selama ini.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyatakan bahwa secara psikologis terdapat kecenderungan negara terbelakang meniru apa saja yang datang dari negara yang dianggapnya lebih maju. Dalam konteks sekarang, karena yang dianggap negara maju adalah barat, maka apa saja yang datang dari barat mesti ditiru dan dijadikan model. Dalam perpolitikan misalnya, maka sistem politik yang paling dianggap ideal sekarang ini adalah yang datang dari barat. Akhirnya liberalisme, yang memberi porsi sangat besar kepada individu, menjadi model bagi semua negara berkembang. 'Kebebasan' dalam arti serba-boleh menjadi bagian terpenting dari trend tuntutan mereka di banyak negara, tak terkecuali di Indonesia. Begitu juga dalam urusan ekonomi. Liberalisme ekonomi seakan menjadi satu-satunya pilihan, sekalipun negara-negara berkembang kini telah dihajar habis-habisan oleh barat. Bertahun-tahun Indonesia membangun negaranya dengan pengorbanan rakyat yang luar biasa besarnya, tapi hasil pembangunan itu bisa dimusnahkan dalam waktu sekejap saja. Betapa mudahnya barat menghancurkan perekonomian suatu negara. Krisis yang terjadi di Indonesia, selain karena kesalahan dari dalam, tidak lepas dari rekayasa mereka. Tapi dasar nasib negara-negara berkembang yang secara psikologis memiliki mental rendah, maka jiwa budaknya selalu tampil membela tuannya. Biarpun sepatu tuannya sudah menempel di pipinya, mereka masih bertanya, 'apakah sepatu tuan bisa kami bersihkan ?'

Indonesia harus berani bersikap tegas dalam urusan ini. Jangan sampai latah mengikuti barat secara membabi-buta. Yang perlu disadari bahwa peradaban barat itu bukan peradaban dunia. Sejarah barat bukanlah sejarah dunia. Pola pikir dan ideologi barat bukan sumber inspirasi dalam menciptakan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Barat mempunyai ideologi, Islam juga punya. Barat memiliki pola pikir dan pola sikap, Islam juga memilikinya. Sikap bangsa Indonesia dalam hal ini seharusnya : Biarkanlah barat hancur dengan ideologinya, sementara kita membangun peradaban dunia dengan nilai-nilai Islam saja. Dengan sikap yang tegas ini, tentu saja Barat tidak suka. Mereka akan berbuat macam-macam untuk membungkam mulut dan mematahkan langkah penentangnya. Mereka akan selalu berusaha membuat citra Indonesia buruk, lalu akan mengisolasi, menjatuhkan sanksi berupa embargo ekonomi, sampai kepada memboikot secara penuh. Mereka juga masih bisa menempuh jalur lebih keras, yakni kekuatan militer, yang tentu saja bisa menghancur-lumatkan sebuah negara berkembang.

Mereka kini telah menguasai hampir seluruh sumber daya yang ada. Ekonomi mereka kuasai secara penuh, informasi ada dalam genggamannya, politik ada di tangannya, demikian juga kekuatan militer. Siapa yang tidak 'keder' menghadapi mereka? Yang diperlukan sekarang ini adalah sosok pemimpin yang memiliki kepribadian utuh dan karakter yang kuat untuk membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis tanpa harus membebek kepada barat. Indonesia butuh pemimpin sejenis Ayatullah Khomeini, yang berhasil mengenyahkan dominasi barat dan segenap penguasa-penguasa bonekanya. Indonesia membutuhkan pemimpin sekuat Saddam Hussein, yang mampu bertahan dari berbagai serbuan dan serangan barat, juga membutuhkan orang sejenis Fidel Castro, dan orang-orang yang berkarakter lainnya. Tentu saja bukan dalam arti Khomeini, Sadddam, dan Castro yang otoriter atau diktator, melainkan yang dibutuhkan adalah karakternya yang kuat dan kepribadiannya yang utuh agar bangsa ini menemukan kembali jati dirinya.

Jati diri bangsa Indonesia adalah Islam. Ini yang harus benar-benar dipahami oleh semua unsur bangsa. Sejak Sumpah Pemuda 1928, para pelopor bangsa telah berikrar bahwa bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia. Yang dimaksud di sini adalah Bahasa Melayu, yang notabene adalah simbol dari bahasa ummat Islam. Meski Sumpah Pemuda itu sendiri diikrarkan di tanah Jawa, mengapa mereka tidak menggunakan bahasa Jawa? Karena bahasa Jawa lebih banyak dipengaruhi unsur budaya Hindu, yang mengurangi persamaan derajat, sementara Bahasa Melayu lebih dipengaruhi unsur budaya Islam yang terbuka dan cenderung tidak membeda-bedakan. Karenanya, jika ummat Islam Indonesia kembali kepada Islam, pada dasarnya berarti telah kembali kepada asal yang sejati. Lihatlah perbendaharaan kata atau istilah yang dipakai untuk menamai lembaga-lembaga tertinggi dan tinggi negara. Di sana ada Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Agung, dan sebagainya. Semuanya menggambarkan nilai dan budaya Islam, karena majlis, diwan, maupun mahkamah memang merupakan bahasa Islam.

Kenapa setelah merdeka justru Indonesia berbelok arah, menghadapkan wajah ke barat dan ke timur? Kenapa tidak kembali ke Islam saja? "Kebajikan itu bukannya kamu menghadapkan wajah ke barat atau ke timur, tetapi al-birr itu siapa yang beriman kepada Allah, kepada hari akhir, kepada malaikat-Nya, dan kepada nabi-nabi..." (QS al-Baqarah: 177). Setelah lima puluh tahun merdeka, ternyata bangsa Indonesia masih harus terus-menerus melakukan coba-coba dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Masih tengok kanan tengok kiri mencari alternatif terbaik untuk membawa bangsa ini menuju cita-cita bersama. Dua pemimpin terdahulu bangsa Indonesia, Soekarno dan Soeharto, sama saja. Soekarno menengok ke timur (RRC) yang komunis, Soeharto ke barat.

Yang lebih parah lagi, kehidupan beragama menjadi begitu tertekan. Agama telah disejajarkan dengan nasionalisme dan komunisme. Lahirnya faham Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme) pada jaman Soekarno menjadikan kehidupan beragama meredup, bagai lentera yang kehabisan sumbu. Akhir dari episode itu adalah tumbangnya rezim Soekarno. Kemarahan rakyat tidak lagi bisa dibendung. Mereka menuntut agar Soekarno diadili di meja hijau dan semua harta kekayaannya dibekukan. Akhirnya Soekarno meninggal dunia semasa dalam tahanan atau isolasi, sebelum proses pengadilan itu sendiri berlangsung. Hal yang hampir sama terjadi pada saat ini, di mana Soeharto telah dipaksa mundur dan kekayaannya diusut. Hanya saja Soeharto masih hidup, dan tidak dalam tahanan. Antara Soekarno dan Soeharto mempunyai kesamaan nasib. Keduanya sama-sama diturunkan rakyat dari kursi kepresidenannya. Bedanya, Soekarno turun karena suatu 'revolusi', sedangkan Soeharto turun karena 'reformasi'.

Yang patut disesalkan, kenapa pada waktu revolusi dahulu, ketika terjadi pergantian pemimpin negara dari Soekarno ke Soeharto tidak terjadi revolusi ideologi. Sebab ideologi itu sendiri patut dipertanyakan bila pencetusnya sudah melanggar atau melenceng dari padanya, dan bahkan ingin mengubahnya. Hasil perenungannya itu bisa saja salah, karena manusia memang tidak lepas dari kesalahan. Tampilnya Soeharto ternyata mengulangi kesalahan yang sama. Ia tetap akan membungkus ideologi dunia yang lain dengan ideologi lokal hasil perenungan orang yang telah dinyatakan melenceng tersebut. Malah ternyata Soeharto bertindak lebih keras dan kejam lagi. Ada pemaksanaan secara sistematis untuk menjadikan ideologi itu sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk berorganisasi dan melakukan apa saja. Lahirlah P4 untuk masyarakat umum, dan pelajaran PMP untuk para pelajar di sekolah. Hal ini merupakan pemaksaan yang sangat sistematis dan rapi. Entah berapa biaya dan tenaga yang telah diboroskan untuk proyek besar yang mubazir ini, sampai-sampai ada biro khusus, malah terakhir ada menteri khusus untuk menanganinya. Asas tunggal yang dipaksakan ini telah membawa korban yang sangat besar dari ummat Islam.

Timbullah berbagai penolakan yang ujung-ujungnya adalah peristiwa tragis di Tanjung Priok, Jakarta. Beberapa organisasi Islam yang besar ikut-ikutan pecah. Demikian pula tokoh-tokoh ummat. Ada yang menerima, ada sebagian menolak. Mereka yang tidak menerima akan dicap ekstrem, fundamentalis, yang karenanya berhak dimusnahkan dari negara republik ini. Ada yang mereka lupakan, bahwa negara ini bukan milik seseorang. Negara ini tidak diwariskan dari nenek moyang mereka. Negara ini adalah bagian dari buminya Allah. Allah-lah yang paling berhak menempatkan seseorang di bagian bumi mana pun, di perut perempuan mana pun ia dikandung. Allah yang mempunyai hak penuh tentang hal ini. Oleh karenanya, Dia-lah yang mestinya ditanya, apakah orang-orang yang tidak menerima ideologi tertentu itu tidak berhak hidup di bumi-Nya? Jika tidak berhak, kirim saja ke neraka. Jika berhak, kenapa harus dikejar-kejar, dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh? Ini suatu kezhaliman yang di luar batas kemanusiaaan. Orang-orang yang menolak semua ideologi buatan manusia, dan hanya mau menerima ajaran Alllah swt adalah orang yang paling berhak hidup di bumi, dan tentu saja yang paling berhak hidup di negeri ini. Merekalah orang-orang shalih yang kehadirannya ke dunia berperan untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan alam, dan menegakkan sistem keadilan. Mereka berpihak kepada Allah, kepada hukum-Nya, dan kepada sistem kehidupan yang telah diciptakan-Nya.

Selama ini dikesankan bila orang mendasarkan perjuangannya kepada agama dicap sebagai SARA, sementara yang mendasarkan perjuangannya pada ideologi nasionalisme dianggap pejuang. Ini merupakan sikap yang sangat diskriminatif. Rupanya hal ini merupakan strategi rezim lama untuk meminggirkan peran ummat Islam di gelanggang nasional. Sekarang, apa hasilnya setelah Soeharto memaksakan kehendaknya dengan keharusan semua pihak untuk menerima asas tunggal? Dapatkah dengan pemaksaan seperti ini menjamin terpeliharanya integrasi nasional? Buktinya masalah Priok, Lampung dan Aceh masih belum selesai. Buktinya sampai sekarang masalah Timor Timur belum tuntas. Buktinya telah terjadi berbagai kerusuhan-kerusahan yang susul-menyusul di berbagai penjuru tanah air ini. Kenapa demikian? Karena Pancasila yang dijadikan landasan oleh rezim Soeharto tidak lain dari utak-atiknya sendiri. Ia, dengan dibantu para penasihatnya menafsirkan Pancasila tidak keluar dari dua ideologi besar, yaitu liberalisme dan sosialisme. Ada semacam sinkritisme ideologi, di mana Soeharto menerapkan liberalisme dalam ekonomi, sementara dalam politik ia tetap menggunakan cara-cara pendahulunya, yaitu sistem sosialisme. Dengan cara itu, rezim Soeharto mengontrol semua pusat-pusat kekuatan politik, sekaligus menguasai pilar-pilar ekonomi, yang dibangun atas dasar korupsi, kolusi dan kronisme. Ternyata apa yang dibangunnya selama ini telah menghancurkan dirinya sendiri. Tembok yang dibangun kuat-kuat itu telah menimpa dirinya sendiri.

Kini era reformasi telah datang, Soeharto juga sudah lengser atau bahkan longsor. Pertanyaannya, apakah kita akan tetap mengulangi kesalahan yang sama, yaitu hanya mengganti pemimpinnya saja? Jika jawaban kita "ya", sebaiknya kita ucapkan selamat tinggal pada reformasi. Percuma saja perjuangan reformasi itu, sebab dalam waktu dekat mereka yang menggantikannya akan mengulangi hal yang sama. Kita tinggal menunggu kapan saatnya bangsa ini hancur untuk ke sekian kalinya. www.masgunonline.blogspot.com



Jika Anda Jadi Pemenang Atau Kalah

JIKA ANDA JADI PEMENANG ATAU KALAH
Oleh: Mas Gun

www.masgunonline.blogspot.com: Setiap orang yang ikut dalam suatu kancah pertarungan, menang atau kalah merupakan hasil perjuangan yang anda peroleh dan itu suatu hal yang lumrah di jagat Allah ini, kalau tidak menang tentu kalah namanya. Begitulah realita setiap kali adanya kancah pertarungan dan bagi mereka yang tidak ikut dalam kancah pertarungan itu tentulah tidak dapat merasakan betapa nikmatnya menang atau betapa pahitnya kalah, namun pahit getirnya kekalahan dan enak nikmatnya suatu kemenangan hanya andalah yang dapat merasakannya.

Banyak orang jadi angkuh, sombong, riya, takabur dan kejebur dalam riang berlebihan karena lupa diri tatkala mendapat suatu kemenangan. Namun tidak sedikit pula orang jadi pusing, hoyong, stress dan stroke tatkala dilanda kekalahan. Begitulah realita kehidupan orang-orang yang jauh dari Allah, sehingga hati menjadi batu, fikiran menjadi pilu, matapun jadi tersedu, sehingga dunia terang oleh lampu tampak jadi kelabu bin remang-remang bin bakunang-kunang bin sempoyongan bin pingsan di pembaringan, aduh kasihan. Untuk mengantisipasi agar tidak begitu, mari kita beri solusi jitu.

Jika anda jadi pemenang, bolehlah anda senyum riang, namun:
1. Tetaplah dalam kondisi bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan anda kemenangan, dengan begitu anda tidak lupa diri seolah-olah kemenangan anda karena kehebatan diri anda meraihnya tanpa bantuan dari Allah.
2. Berterima kasihlah kepada orang-orang yang telah mendukung anda, sehingga anda dihantarkan ke pintu gerbang kemenangan anda dan jangan pernah lupa kepada mereka, tetaplah menyapa mereka dimanapun bersua dan jangan buang muka, tetapi lebih baik buang senyumlah kepada mereka dengan senyum simpatik dan bukan senyum sinis. Dengan begitu kemenangan anda akan dapat bertahan lama sampai ajal jabatan itu diambil yang punya, sebab bukan anda saja yang punya ajal, tetapi kemenangan itupun ada ajalnya. Maka tatkala anda jatuh, orang-orang sekitar anda akan tetap menerima anda apa adanya (jatuh enak dan bukan jatuh tape alias nyonyot).
3. Wujud terima kasih anda kepada orang-orang yang telah mendukung anda meraih kemenangan (baik mereka itu membantu anda langsung atau jarak jauh) adalah mengemban amanat kebajikan untuk kemaslahatan orang-orang yang mendukung anda pada khususnya dan kemaslahatan umum pada umumnya tanpa pandang bulu, sebab anda tidak membutuhkan bulu.
4. Tetaplah dekat kepada Allah dan jangan jauh-jauh dari Allah, agar anda tidak cendrung menyalah gunakan kepercayaan orang banyak selama anda berada di puncak kemenangan anda. Dengan begitu anda akan selamat dari segala fitnah wal azabullah fiddunya wal akhiroh.

Tetapi jika bukan kemenangan yang anda dapat, berarti anda disebut kalah. Jika anda kalah maka:
1. Berlapang dadalah menerima kekalahan anda, walaupun dada anda terasa hanya tinggal beberapa cm (centi meter) saja, namun realitanya anda memang kalah, ya sabarlah dong.
2. Introsfeksi diri, siapa tahu metode, strategi dan sistem pelaksanaan di lapangan tidak mengena pada sasaran saat anda berjuang. Mungkin anda terlalu ngotot dan ambisi berlebihan meraih kemenangan, pada hal di luar kemampuan anda meraihnya, sehingga segala cara yang anda laksanakan bukannya membuat orang dekat dengan anda, tetapi malah lari terbirit-birit meninggalkan anda.
3. Kontrol diri, agar emosi anda tetap dalam kondisi stabil dan bukan labil, sehingga segala penyakit akibat efek samping negatif kekalahan dapat anda antisipasi semaksimal mungkin.
4. Tawakkal diri pada ilahi, yang penting anda sudah berbuat semaksimal mungkin untuk meraih kemenangan itu, tetapi malah kekalahan yang anda dapatkan, sesungguhnya itu lebih baik dari pada anda tidak berbuat sama sekali.
5. Dekati anak yatim piatu yang termiskin di sekitar anda, kemudian coba bandingkan penderitaan anda dengan penderitaan mereka, siapakah yang lebih menderita? hanya anda yang tahu jawabannya, namun jika anda merasa bahwa anda yang paling menderita pada saat ini hal itu salah, sebab yang sesungguhnya paling menderita adalah mereka yang lebih menderita dari anda. Tetapi lihatlah mereka tetap sabar menghadapi nasib dan taqdir mereka plus mereka juga sabar menghadapi anda yang hanya memperhatikan mereka tatkala anda menginginkan keuntungan dan kepentingan diri anda dari mereka.
6. Tetaplah ucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah menghantarkan anda kepintu gerbang kekalahan, sebagai wujud lapang dada dan jantan menerima kekalahan yang ada, tanpa mengada ngada yang ndak ada.
7. Ucapkan selamat kepada mereka yang menang dengan bibir senyum, wajah ceria, tegur, sapa, simpatik pada semua dan tidak pake sinis segala.

Jika langkah-langkah di atas anda lakukan, insya Allah anda tidak lupa diri tatkala mendapat kemenangan dan tidak bunuh diri tatkala anda ditimpa kekalahan. Untuk itu saya ucapkan:

SELAMAT DAN SUKSES BAGI PEMENANG
PERBANYAK SABAR DAN LAPANG DADA BAGI YANG KALAH

Hiduplah Indonesia raya, bersatu kita teguh, bercerai kita berantakan. www.masgunonline.blogspot.com